Medusa

Mungkin karena seringkali terjadi, kita mudah terbiasa, mudah merasa nyaman, mungkin juga mudah memaklumi.

Rasanya juga bukan sekali juga kita melihat Medusa selayaknya sebuah monster, dengan rambut ularnya yang menjuntai ganas, tatapannya yang siap menjadikan siapapun menjadi batu. Legenda tentang Medusa dari masa ke masa menceritakan dirinya seperti ini, seperti para penulis Helenistik dan Romawi seperti Homer, Hoseid dan juga Ovid – namun dengan dengan penafsiran yang mengungkapkan bahwa Medusa sebenarnya tidak selalu berupa monster atau Gorgon.

Puisi naratif berujudul The Metamorphoses oleh Ovid menampilkan Medusa sebagai seorang perempuan, atau lebih tepatnya seorang pendeta yang setia berbakti dan mendedikasikan dirinya kepada kehidupan di kuil Athena, sang dewi laut.

Lalu di suatu hari, Poseidon – menghampiri Medusa untuk menggodanya namun Poseidon hanya ditemukan dengan penolakan dari Medusa yang menghormati tubuhnya sendiri. Penuh dengan amarah, Poseidon memperkosa Medusa di kuil Athena. Ketika Medusa hamil, lalu mengadu serta menuntut keadilan pada Athena, sang dewi mengutuk Medusa.

Satu hal yang tak pernah luput dari pembahasan Medusa adalah nasibnya yang selalu sama, apapun interpretasi ceritanya seiring berjalannya waktu. Medusa dipenggal oleh Perseus dan kepalanya digunakan sebagai senjata Perseus untuk melampaui musuh-musuhnya.

Mulai dari sana, Medusa bergerak menjadi simbol amarah, tapi juga pelindung (Seperti namanya dalam bahasa Yunani kuno, “to guard or to protect”) dan sekarang:

Perlawanan.

Dengan kata lain, kita dapat membaca kembali cerita Medusa secara kritis, terutama karena relevansinya terhadap realita keadilan yang masih belum memihak secara penuh kepada perempuan.

Cerita Medusa sangat dekat dengan suara perempuan yang tertekan, tidak terdengar, dengan para perempuan yang ternyata tidak dapat mengandalkan siapapun, terutama dalam kasus kekerasan seksual serta dalam rumah tangga. Lebih sering daripada tidak, perempuan dipaksa untuk berdamai dengan pemerkosanya hanya demi prinsip “sama-sama enak” tanpa memikirkan bahwa ketenangan pikiran, atau kedamaian itu mungkin tidak akan pernah dicapai lagi olehnya seumur hidup.

“Pakai baju apa waktu itu?”

“Kenapa nggak menolak saja?”

Ketika melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut, menyalahkan perempuan seolah tidak pernah semudah ini akhir-akhir ini, apalagi seiring dengan perkembangan teknologi, dan bahkan sampai ke pada tahap mengkriminalisasi perempuan. Saya melihat bahwa kecenderungan atau patriarchal tendency tersebut dapat ditelusuri kembali ke masa Medusa ketika Athena memilih untuk mengutuknya dengan pemberian karakteristik fisik yang telah kita kenal dengan baik. Di sinilah segala sesuatunya menjadi menarik dan juga ironis karena dengan kemampuannya merubah siapapun menjadi batu, Medusa sebenarnya diberkati oleh kemampuan untuk melindungi dirinya dari berbagai macam kebrutalan, namun sebaliknya semua tetap berakhir dengan Medusa yang dipenggal oleh Perseus.

Sungguh ironis, dan timbul juga rasa tak berdaya yang juga dirasakan oleh perempuan Indonesia di masa kini, yakni ketika perempuan ingin mendefinisikan dirinya, namun tak kunjung dapat dilakukan secara otonom.

Tidak melalui tubuh yang sejatinya sudah menjadi hak dasar serta bagian dari eksistensi dirinya, maupun lewat bahasa seperti yang diungkapkan oleh Saras Dewi, seorang dosen Filsafat di Universitas Indonesia dalam kolumnya berjudul “Tawa Medusa”.

Beliau benar. Bagaimana bisa? Bahkan, Kamus Bahasa Indonesia atau KBBI ternyata masih menyimpan kata-kata yang mereduksi perempuan sebagai makhluk yang serba mengganggu – termasuk yang merujuk pada tubuh sebagai provokator dan mengundang hasrat. Jalang. Pelacur. Jangak (cabul), dan masih banyak lagi.

Mungkin ini semua terdengar seperti CD rusak, atau “Yes, we’ve heard it all before.”,tapi memilih diam tidak dapat menghilangkan fakta bahwa ketidakadilan yang dialami perempuan tetap terjadi, atau membungkam perlawanan yang semakin mengeras dan menggaung. Ini semakin penting mengingat konteks pandemi global yang menghadirkan segenap tantangan dan beban berganda atau berlapis. Contohnya, di antara menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan, perempuan juga menghadapi kehilangan pekerjaan, sehingga dirinya lebih rentan terhadap kekerasan di dalam rumah tangga.

Ketidakadilan yang sistematis ini membutuhkan perjuangan yang substantif. Maka, di pekan perayaan Hari Perempuan Sedunia ini, saya ingin sedikit berkontribusi melalui penghadiran imaji Medusa yang lebih dekat di hati dengan expertise seorang Septian Fajrianto yang berhasil membawa Medusa back to life atau kembali seiringan dengan momentum yang besar dan sangat kontekstual ini.

Figur atau imaji seorang Medusa sudah lama ada di pojok benak saya seiring dengan bahan baca yang bertambah dan perkembangan penggambaran Medusa dalam, misalnya, budaya pop dan seni, termasuk seni ilustrasi. Penampilannya berubah drastis selama berabad-abad, tapi tetapi dia selalu dikenali karena frontalitasnya yang mencolok. Selain rambut yang khas, yang saya lihat di hampir semua representasi Medusa, terlepas dari gaya dan mediumnya, dia selalu menatap ke depan dengan kuat dan lantang.

Kemudian, tidak jarang saya berpapasan dengan sosok Medusa dengan tatapan atau mata yang geram dan mengancam, lalu penggunaan warna yang mencolok. Don’t get me wrong, tidak ada yang salah dengan itu karena hal tersebut juga merupakan bagian dari unsur kekuatan yang memang pantas dimiliki oleh Medusa.

Namun, mas Septian telah berhasil menangkap nuansa mistis atau nuansa mitos kuno dalam detail drapery yang melingkari tubuh Medusa dengan inspirasi atau detail yang mengacu pada ilustrasi Gustave Dore. Nuansa ini terus terlihat melalui ukiran yang rustic pada busur panahnya, serta goresan atau garis-garis yang memberikan tekstur dan dimensi pada tubuh Medusa yang belum pernah saya temukan sebelumnya.

Bersama mas Septian, saya seperti melewati proses yang membantu saya berkenalan kembali dengan Medusa dan berefleksi secara kritis terhadap bagaimana pengalaman Medusa dapat membantu saya dan kita semua untuk terus menyikapi dan menantang ketidakadilan.

Maka, atas proses, pengalaman, dan hasil yang memukau ini, saya mengucapkan terima kasih yang besar dan hangat. Sekali lagi, terima kasih.

Untuk melihat karya-karya Septian Fajrianto, klik di sini.